Jumat, 23 Agustus 2019


      MENGANTARKAN ENERGI DI ZONA EXTREM


 Assalamualaikum warrahmatullahi wabarrakatuh



Saat tim melanjutkan penerbangan dari biak menuju nabire,
(chimel).



Akhirnya Setelah sembilan bulan pelan pelan selesai juga nih ngetik blog, tahun lalu tepatnya november 2018 saya mendapatkan tugas meliput bbm satu harga di pedalaman papua  dan jujur butuh waktu lama kalau saya ngetik (hehehe)  dan ini pun masih berantakan rasanya tapi semoga ceritanya mudah di mengerti 😁.


Okay kali ini saya ingin berbagi cerita tentang perjalanan hidup, eeitt tapi rasanya terlalu berat😜, perjalanan penugasan meliput aja kali ya?  dan kebetulan saya (Chimel Energia TV) jalan bareng Akbar (fotographer Antara) Ilung (Videographer antara).

Tampak hutan papua dari atas pesawat. (Chimel)


Tbbm nabire tampak dari udara. (akbar)

Saya mendapat tugas meliput untuk sebuah karya buku BBM SATU HARGA dan video dokumenter perjalanan pendistribusian bbm satu harga di papua yang berlokasi di Distrik obano salah satu Distrik tertua di papua, Ternyata pertamina terus berupaya menambah layanan BBM demi memenuhi kebutuhan masyarakat 3T yaitu tertinggal, terdepan dan terluar dan jalur yang akan saya tempuh sekitar 280 km menuju dermaga danau enaro  kemudian di lanjutkan dengan speedboat 8km.


Namun dari sekian banyak tugas meliput baru kali ini ada rasa was was yang berlebih pada diri saya, padahal tugas ke papua ini bukan pertama kalinya, namun area yang akan di liput untuk menuju lokasinya yang bikin gue ngeri ngeri sedap adalah termasuk zona merah menurut beberapa driver rental kami, masi ada titik titik rawan kejahatan menuju paniai, mereka kalau ngerampok gak tanggung tanggung katanya (namanya juga ngerampok yaa kalau nanggung nanggung bukan perampok heheheh ) ini gara gara cerita kawan kawan driver yang bikin gue parno, Setelah berdiskusi akhirnya kita putuskan bersama tim dan rombongan awak mobil tangki mulai jalan jam 1:30 Pm dengan strategi jalan ber iringan agar komunikasi lewat radio kontrol tetap terjaga dan menghindari hal-hal yang tidak di inginkan, bismillah saja niat baik pasti akan di sambut baik oleh warga, ya gak bro, Aamiin 😊.
Proses pengisian bbm di tbbm nabire sebelum menuju pania, (Chimel)

Persiapan perjalanan ber iringan
Persiapan perjalanan ber iringan, (Chimel)
Sepanjang perjalanan perlahan rasa takut mulai hilang, pemandangan yang indah menghapus sebagian Rasa takut, saya gak bisa berkata kata, Masya Allah indah dan keren banget, mulut ini ingin teriak karena terlalu exited bingung mau ngomong apa sulit di ungkapkanlah, sinyal hp mulai naik turun bahkan hilang begitu memasuki daerah hutan & perbukitan jadi jangan harap ada sinyal telepon & internet 😁.

Akhirnya kita pindah ke mobil terbuka agar leluasa mengabadikan para rombongan mobil tangki dan
haripun mulai gelap, perjalanan sudah hampir sampai di paniai suhu dingin di sini mencapai 10 derajat celcius di dalam mobil (tanpa ac) di luar bisa mencapai 3-6 derajat celcius dan kabutpun menutup jarak pandang mobil, tiba tiba melalui kontak radio mobil yang saya tumpangi mendapat kabar buruk bahwa salah satu mobil tangki mengalami pecah ban di tengah hutan jalan trans papua sehingga mereka harus mengganti dengan ban cadangan, saya yang berada di mobil tim satu memang berada paling depan dan sudah mendekati perkampungan sehingga kita juga menepi mencari titik aman dan untungnya kita bertemu dengan salah satu warga sehingga kami dapat singgah sejenak untuk menunggu rombongan amt (awak mobil tangki) yang tertinggal akibat pecah ban.

Enjoy mengabadikan gambar di mobil terbuka 😉, (Chimel).


Mobil tangki saat melintasi jalanan rusak akibat tanah longsor, (Chimel)




Mengganti ban yang pecah dan mobil siap melanjutkan perjalanan, (Ilung)
Saya sempat memanjakan mata menikmati keindahan langit malam hari di sini, rupanya Allah sedang mempertontonkan milkyway buat para hambanya (Allah huAkbar), namun sayang saya tidak sempat mengambil momentnya 😔.

Akhirnya setelah kurang lebih satu setengah jam rombongan awak mobil tangki yang tertinggal akibat ban pecah  datang dan perjalananpun kami lanjutkan, kini kami memasuki jalan pintu angin (area zona merah) dan kenapa di sebut pintu angin?? Karena sebelumnya jalan itu adalah bagian dari bukit gunung lalu harus di belah untuk jalur trans papua.


Inilah lokasi jalan pintu angin saat siang hari, (Chimel)
Kita semua waspada dan berdoa semoga niat baik ini tidak di persulit menuju pendistribusian bbm satu harga di paniai distrik obano, selama perjalanan di area pintu angin jujur saja walaupun pemandangan kabut yang indah dan suhu yang semakin dingin, rasa cemas itu mulai ada karena kejahatan paling sering itu berada di titik ini, kanan dan kiri hanyalah bukit dan hutan.

akhirnya saya dan rombongan tiba di lokasi penginapan warga dengan selamat jam 12:00 am

sungguh dingin dahsyat luar biasaaa, "ini indonesiaa brooo" tanpa basa basi malam itu saya langsung tarik selimut karena sudah gak kuat sama dinginnya dan berharap mimpi indah (hehe).

Pada pagi hari paniai sungguh sungguh membeku dinginya, tapi karena saya orangnya penasaran nekat lah mandi dengan air yang super dingin, badan rasanya kaya di siram batu, sebagian temen temen si ada yang nyerah ga kuat (hehehe).

Saya dan rombongan melanjutkan perjalanan ke dermaga danau paniai untuk menyebrang ke distrik obano (titik pendistribusian bbm satu harga) namun sebelumnya kami harus menunggu bapak Hanok dahulu tokoh masyarakat sekaligus pemilik spbu kompak (86.987.04), karena tanpa di dampingi beliau kami tidak bisa merekam dan memotret dengan leluasa.

Hanok gerison pigai (tengah dengan kemeja) tokoh masyarakat sekaligus pemilik spbu kompak yang mendampingi saya & tim selama di paniai-distrik obano, papua barat (Ilung)
Setelah pak hanok datang kami pun langsung bergegas menuju dermaga danau paniai, perlu kalian ketahui ternyata danau ini luasnya 14.500 hektare kedalaman mencapai 50m dan berada di ketinggian 1.742 mdpl whoooooaaa gokil kan luas banget dan danau enaro paniai ini termasuk sembilan danau terluas di indonesia broo.

Narsis dulu di sekitar warga paniai hehe, (Chimel)
Masyarakat awalnya melihat kami agak asing dengan alat alat kamera yang kami bawa namun lama lama mereka mulai terbiasa.

  Proses pemindahan bbm ke drum biru, (Chimel).


 Melintasi danau pania, (Akbar)



Menyeberangi danau tidak kalah seru dengan jalur darat, tiupan angin dan ombak membuat saya memicu adrenalin, saat di tengah danau saya senang sekali karena dapat menyaksikan hujan sebagian saja (seperti membelah danau) bahkan seperti kejar-kejaran dengan air hujan, setelah kurang lebih satu jam melintasi danau akhirnya saya tiba di tepian distrik obano dan sudah di sambut oleh beberapa warga.

Setelah melewati danau terluas ini kurang lebih satu jam akhirnya saya sampai di tepian danau paniai distrik obano saya dan tim sudah di tunggu oleh beberapa warga yang akan membawa drum drum bbm menuju spbu kompak, jarak dari tepian danau ke lokasi spbu kurang lebih 4km, melewati lembah dan perkampungan lalu tibalah saya di lokasi spbu kompak bbm satu harga, warga di sini sangat asing melihat kehadiran kami namun saya percaya alam dapat menyatukan saya dengan saudara saudara saya di sini 😊.

Penampakan distrik Obano, pania barat (akbar)


Bersama warga menurunkan drum bbm jenis premium & solar, (Chimel)





Warga mengisi bbm untuk untuk genset dan motor (chimel)
kehadiran bbm satu harga ternyata membawa dampak energi positif yang sangat besar bagi masyarakat paniai mereka dapat menumbuhkan perekonomian melalui sewa jasa speed boat dan biaya transportasi menyebrangi danau antar distrik dan dengan genset berbahan bakar solar kegiatan belajarpun kini bukan halangan bagi mereka karena lampu-lampu kecil mulai memberi sinar ketika malam hari bahkan warga di pedalaman ini pun dapat menonton tv.
Lewi pigai sedang mengajar putranya (ilung)



Ada rasa haru dan bangga selama saya berada di sini, ternyata tugas ini membuka mata hati saya bahwa energi di negri ini sedang berproses untuk lebih baik dan merata bagi saudara-saudara kita di pedalaman dan saya merasakan aura warga sangat bersahabat bahkan ketika saya kembali menyebrangi danau beberapa warga mengawal kami menyebrangi danau dalam gelap gulita, sinar laser sniper yang sempat ter arahkan ke tangan dan kamera saya anggap sebagai salam perkenalan saja, harapan saya semoga energi ini terus berlanjut sampai titik-titik lokasi yang tepat sasaran.
 
                                                                  Sebuah keluarga di distrik obano nonton acara televisi bersama (ilung)
   Chimel, Ilung, Akbar & Seni (driver sekaligus tempat sharing lokasi) bukit merah, papua
                   
  The end








Tidak ada komentar:

Posting Komentar